facebook
ChatAja-spinner

Aku Sudah Gak Tahan Lagi, Aku Benci Orangtuaku

Halo teman Mba Kiki! Tahukah kamu kalau setiap manusia butuh curhat ketika menghadapi masalah. Bila dibiarkan nantinya dapat menumpuk perasaan negatif. Teman Mba Kiki namanya Sri (nama samaran) galau banget tadinya tapi memutuskan untuk curhat juga ke Mba Kiki. Begini ceritanya...

 

Aku Sudah Gak Tahan Lagi, Aku Benci Orangtuaku

 

“Nggak mau.”

“Bilang nggak, kamu mau mama pukul?”

 

Begitulah ibuku setiap kali aku menolak melakukan sesuatu hal yang disuruhnya, aku pasti mendapat kekerasan fisik serta omongan kasar. Sedikit background, orang tuaku menikah muda karena ibuku sudah hamil duluan. Sebagai pasangan muda yang masih labil, mereka sering bertengkar karena hal-hal yang sepele. Dari masa kecil, aku sudah harus menahan emosi melihat orang tua yang sehabis lelah bekerja berusaha mencari-cari kesalahan sekecil apapun pada diri pasangannya. Ayah kurang mengapresiasi ibuku, bahkan tidak pernah sekalipun memuji masakannya. Ayah selalu mengatakan, “kenapa masaknya itu-itu saja?” Terkadang hatiku ikut sakit mendengarkan ocehannya. Kelihatannya sepele, tapi bapak seperti tidak mau berusaha menyadari bahwa mengurus anak dan masalah rumah tangga seperti memasak itu hal yang tidak mudah. Seumur-umur aku belum pernah mendengar mereka saling mengucapkan kata-kata “I Love You” secara langsung. Perhatian kecil dan kata-kata pujian inilah yang sebetulnya dibutuhkan oleh pasangan.

 

Puncak dari konflik keluargaku adalah saat suatu hari mereka bertengkar hebat hingga memecahkan piring dan gelas. Pertengkaran itu akhirnya menyebabkan mereka bercerai, suatu hal yang sudah lama kuduga akan terjadi. Setiap di rumah, aku merasa muak mendengar pertengkaran kedua orang tuaku. Perseteruan yang terjadi setiap hari itu membuat mereka lupa memperhatikan dan memberikanku kasih sayang. 

 

Akhirnya mereka sepakat untuk tidak bertahan demi aku. Lebih baik mereka bercerai daripada terus bersama. Sekarang, orang tuaku yang tidak pernah harmonis itu sudah tidak tinggal bersama dan aku memilih pergi dari rumah tanpa enggan untuk kembali lagi.

 

Biarpun begitu, mereka masih sering mencariku dan bilang bahwa aku seharusnya tahu diri dan harus membalas budi karena telah dibesarkan dan disekolahkan dengan susah payah. Ayah sering minta dikirimi uang setiap bulannya. Aku beberapa kali masih kirim sedikit uang, namun belakangan aku mulai menolak karena mulai minta ini dan itu. Setelah lulus sekolah aku cuma bisa kerja di perusahaan yang kurang bereputasi karena aku tidak pintar dan hanya lulusan SMK. Gaji kecil setiap bulan hanya cukup untuk memenuhi kehidupanku sehari-hari. “Anak kurang ajar kamu, turunan ibunya!” kata Ayah ketika aku tidak menolak keinginannya. Lantas apakah aku berhutang karena telah dibesarkan mereka? Merekalah yang berhutang kepadaku.

 

Selama tiga tahun ini, aku telah berpacaran dengan Ridwan. Dia adalah seorang karyawan perusahaan swasta. Kenal pertama kali di sebuah kelab malam di bilangan Jakarta Selatan. Awalnya Ridwan manis sekali. Setiap hari minimal selalu kasih kabar dan setiap minggu pasti selalu mengajakku jalan dan makan bareng di luar. Makin kesini Ridwan makin jarang menghubungiku. Sampai suatu hari aku menangkapnya selingkuh di depan mataku sendiri. Anehnya aku tidak sakit hati seakan-akan aku tahu bahwa aku hanya akan disakiti lagi dan lagi.

 

Ibuku terus menuntutku untuk cepat menikah. Katanya dengan menikah akan terbuka pintu rezeki. Ibuku malah sering mengirim foto laki-laki kenalan dari temannya. “Umur sudah 25 tahun masih saja kamu sendiri. Cepatlah menikah biar nggak jadi perawan tua! Nyusahin ibu saja kamu,” begitu lagu lama yang sering diucapkan ibuku. Jujur aku lebih baik menjadi perawan tua. Pengalaman hidup bersama dengan keluargaku membuatku tidak tertarik dengan konsep menikah, membina rumah tangga dan mempunyai keturunan. Aku tidak tertarik untuk berkomitmen dengan lawan jenis.

 

Aku sudah gak tahan lagi. Aku benci orangtuaku!

 

Nah, apa ada dari kalian yang juga mengalami masalah serupa? Coba dicurhatin versi kalian sama Mba Kiki. Curhat itu bisa melegakan perasaan kamu. Nggak usah khawatir, Mba Kiki siap jadi pendengar terbaik buat kamu.

 

mbak-kiki-lagi-sad-02

Tentang Kami

ChatAja adalah aplikasi chatting yang dapat menjamin komunikasi secara lancar dan aman untuk berkomunikasi melalui Internet.

@Copyright ChatAja 2019

Hubungi Kami

  • Alamat : Graha Merah Putih Lt. 6, Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 52, Jakarta Selatan
  • Mail : admin@chataja.co.id
  • Kontak : +62 8138 180 302