facebook
ChatAja-spinner

Self-Diagnosis: Tren Terkini yang Berbahaya bagi Kesehatan Mental Diri Sendiri

Mungkin kamu pernah menonton film Joker (2019) atau mendengar lagu-lagu Kunto Aji di album Mantra-Mantra (2018), film dan musik ini mengangkat tentang mental health awareness dan didalam lubuk hatimu bertanya apakah aku sedang mengalami depresi atau kok film ini menggambarkan aku banget ya? Ini adalah salah satu contoh dari self-diagnosis.

Berdasarkan data survey 2014 dari Millennial Mindset: The Worried Well, menunjukkan bahwa 37% responden Gen Y, terkadang berakhir self-diagnosis masalah kesehatan mental yang tidak mereka miliki. Kecenderungan untuk menggunakan internet untuk diagnosis dapat menciptakan siklus ‘pencarian dan stress’, dengan 44% dari Gen Y menyatakan bahwa melihat informasi kesehatan online menyebabkan mereka khawatir tentang kesehatan mereka.

Di zaman yang serba digital ini maraknya fenomena yang menunjukkan individu melakukan analisis terhadap diri sendiri. Sebagai contoh, adanya web-based symptom checkers, berfungsi untuk mengetahui tanda-tanda dari masalah kita dan mendapatkan rujukan apakah harus bertanya kepada ahlinya atau hanya butuh beristirahat, yang kebenarannya masih dipertanyakan karena tidak menunjukan berdasarkan dari studi apa, dan apakah individu yang melakukan self diagnosis itu menjawab sesuai kebenarannya dan tidak berdasarkan prasangka.

Menurut Ateev Mehrotra, Associate Professor Kebijakan Kesehatan dan Pengobatan di Harvard Medical School dan Beth Israel Deaconess Medical Center, wadah ini mungkin berguna pada pasien yang masih mencoba untuk memutuskan apakah mereka harus pergi ke dokter segera. Tetapi dalam banyak kasus, pengguna harus berhati-hati dan tidak mengambil informasi yang mereka terima dari pemeriksa gejala online sebagai patokan utama.

Banyak yang menuliskan diagnosis terhadap dirinya didasarkan kepada apa yang dirasakan sehari-hari dan apa kegiatan yang dilakukan. Self diagnosis adalah upaya mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi yang didapatkan secara mandiri.

Bagaimana sih contohnya self-diagnosis itu?

Beberapa menyatakan dirinya depresi karena adanya beban yang dianggap sangat berat sehingga merasa dirinya terlalu banyak menanggung beban yang dimiliki, merasa sangat lemah, tidak berdaya dan membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang dirasa tidak memiliki beban seberat yang dimilikinya.

Hal ini didukung oleh lingkungan yang mendukung apa yang dirasakan oleh individu tersebut. Padahal pada kenyataannya tidak semudah itu melakukan diagnosa mengenai kesehatan mental diri sendiri maupun mental illness.

Bahkan tidak sedikit lho individu yang “menyatakan” diri sendiri mengalami Masalah Psikologis melalui media sosial pribadi, seperti sharing di media sosial….

“Aduh gue depresi nih skripsi kagak kelar-kelar”

“Gue sering ngomong sendiri kalo lagi dimotor, kayanya gue Halusinasi deh”

“Gue OCD nih soalnya gasuka yang kotor-kotor”

“Gue kayanya bipolar deh mood gue gampang banget berubah-ubahnya”

Mungkin kamu pernah menemukan pernyataan ini di media sosial teman mu? Hmmm.. apa tanggapanmu tentang fenomena ini?

Tidak jarang, beberapa followers individu memberikan respon yang memberikan tanggapan positif mengenai masalah psikologis yang dialami individu, seolah-olah apa yang disebutkan individu adalah benar tanpa mengetahui sumber yang valid, bahkan ‘me-retweet’ hal tersebut. Fenomena ini seperti sedang hype dan orang-orang terkesan hanya mengikuti tren ini agar tidak merasa ketinggalan zaman atau menganggap ini sesuatu yang keren.

Saat ini dipermudah juga dengan adanya akses internet. Individu mencari informasi mengenai keadaan yang membuat dirinya kurang nyaman dan melakukan diagnosis diri sendiri dengan mencocokan keadaan diri sendiri dengan gejala yang ada di internet.

Eitss… Bukan hanya itu saja lho! Diperkuat juga oleh maraknya kemunculan platform yang menyebarkan informasi mengenai tanda-tanda Gangguan Psikologis, sehingga membuat pembaca menjadi tersugesti memiliki keadaan yang sesuai dengan hal tersebut.

Padahal informasi yang disebarkan itu bertujuan untuk memberikan edukasi kepada pembaca mengenai pentingnya menjaga Kesehatan Mental diri sendiri bukan untuk mendiagnosis diri sendiri. Namun, tidak semua pembaca mengerti apa yang dimaksudkan oleh beberapa platform tersebut, sehingga banyak yang mengasumsikan hal tersebut sebagi sarana untuk mendiagnosis diri sendiri.

Pada kenyataannya… Apakah semudah itu mendiagnosis diri sebagai individu yang Depresi? Bahkan mengalami Obsessive Compulssice Disorder dan Bipolar?

Apa yang dirasakan oleh individu mungkin bisa menjadi salah satu indikasi Masalah atau Gangguan Psikologis, tapi bukan menjadi satu-satunya indikasi, perlu didukung oleh data yang lain dan terjadi dalam kurun waktu tertentu didasarkan kepada pedoman yang ada seperti PPDGJ (Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa atau DSM (Diagnosis Statistic Manual). Sebenarnya Self-diagnosis bisa membantu memberikan gambaran megenai diri sendiri, namun jika tidak dilanjutkan dengan menghubungi profesional atau ahli bisa Berbahaya.

Sudah banyak profesional yang menanggapi mengenai hal ini, dan menyuarakan untuk mencari bantuan ahli dan menginformasikan mengenai bahaya melakukan diagnosis diri sendiri. Mengutip pernyataan Dr. Srini Pillay, M.D yang sudah berpengalaman selama 25 tahun di bidang Psikiatri dan menjabat sebagai Asisten Profesor Psikiatri di Harvard Medical School, apa saja bahaya yang didapatkan ketika melakukan diagnosis terhadap diri sendiri?

  1. Tidak dapat membedakan penyakit medis yang menyamar sebagai sindrom kejiwaan.

  2. Meragukan kemampuan profesional (Seperti Dokter dan Psikolog).

  3. Kita mampu melihat dan mengenal diri sendiri, Namun kita membutuhkan Cermin untuk melihat diri kita lebih jelas, dalam hal ini Dokter dan Psikolog lah yang berperan sebagai Cermin.

  4. Menganggap keadaan diri sendiri sangat buruk, Kenyataannya tidak seburuk itu atau bahkan baik-baik saja.

  5. Menyangkal tentang gejala yang dialami. (Denial)

  6. Apa yang dirasakan belum tentu menganggu produktifitas sehari-hari, sehingga tidak dapat diklasifikasikan sebagai Masalah Psikologis.

Lalu, Bagaimana cara kita menghindari Self diagnosis?

  1. Memilah Informasi yang didapatkan dari Internet

Tidak semua informasi yang ada di internet adalah benar dan jelas sumbernya. Kita sebagai pengguna harus pintar dan kritis memilah informasi yang ada di internet, Mencari tahu sumber yang valid. Sebagai pengguna jangan dengan mudah tersugesti dan mencocokan gejala yang ada terhadap keadaan diri sendiri.

 

  1. Berdiskusi dengan Teman dan Keluarga

Mencurahkan pikiran dan perasaan diri dengan orang terdekat terbukti ampuh untuk mengatasi tingkat stress pada individu. Salah satu cara efektif yang dilakukan Masyarakat Indonesia untuk mengurangi stress adalah dengan bercerita kepada teman atau keluarga. (Cygna Asurance, 2018)

  1. Menghubungi Profesional

Stigma yang muncul di masyarakat saat ini mengenai praktisi dalam bidang kejiwaan seperti Psikolog dan Psikiater yang dianggap sebagai profesional yang menangani “Orang Gila” sehingga membuat individu yang menggunakan bantuan jasa Psikolog dan Psikiater sebagai “Orang Gila”. Istilah yang digunakan pun kurang tepat, “Orang Dengan Gangguan Kejiwaan” adalah istilah yang lebih tepat dan halus untuk Individu. Namun tidak semudah itu mengubah Istilah yang sudah berkembang di Masyarakat sejak lama, apalagi mengubah stigma yang sudah melekat.

Psikolog mampu menangani berbagai hal menyangkut kejiwaan seperti Konsultasi pendidikan, pernikahan, Pertumbuhan dan Perkembangan, Psikoterapi, Asesmen, Forensik. Jadi bukan hanya menangani “Orang Gila” seperti yang berkembang di masyarakat saat ini.

Menurut Himpunan Psikologi Indonesia yang beranggotakan sarjana psikologi, magister psikologi, doktor psikologi, dan psikolog dengan jumlah anggotanya saat ini 11.500 orang. Namun, jumlah psikolog klinis menurut catatan Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Indonesia per 5 Mei 2019 hanya 1.143 orang. Jumlah ini meningkat dari catatan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, yang menyebut jumlah psikolog klinis hanya ada 451 orang. Sementara menurut Riskesdas 2018, prevalensi penduduk berusia 15 tahun ke atas yang mengalami depresi sekitar 14 juta orang dan hanya 9 persen orang yang menjalani pengobatan medis. Prevalensi yang timpang ini membuat biaya konsultasi psikologi relatif mahal. Persebaran psikolog pun belum merata, masih terpusat di kota besar seperti  Jakarta, Yogyakarta, Jawa dan Sumatera Barat.

Apakah kamu merasa kesulitan untuk bertemu dengan psikolog secara langsung?

 

stop-self-diagnosis

 

Kini, Simply hadir untuk memudahkan akses kamu untuk berkonsultasi dan konseling dengan Psikolog secara online. Simply berfokus pada layanan kesehatan mental berbasis online. Kami berkomitmen untuk memberikan edukasi mengenai stigma yang ada di masyarakat dan meyuarakan pentingnya kesehatan mental melalui Media Sosial. Selain itu kami juga mempunyai Tim Associate Psikolog yang terdiri dari Psikolog profesional dengan berbagai latar belakang seperti psikolog klinis remaja dan psikolog klinis dewasa. Kamu juga bisa curhat langsung dengan admin yang berlatar belakang Sarjana Psikologi. Layanan yang kami berikan saat ini adalah sukarela, tidak dipungut biaya apapun atau gratis! Tunggu apalagi? ayo download ChatAja dan temukan Simply di fitur Jelajah!

 

Tentang Kami

ChatAja adalah aplikasi chatting yang dapat menjamin komunikasi secara lancar dan aman untuk berkomunikasi melalui Internet.

@Copyright ChatAja 2019

Hubungi Kami

  • Alamat : Graha Merah Putih Lt. 6, Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 52, Jakarta Selatan
  • Mail : admin@chataja.co.id
  • Kontak : +62 8138 180 302